6 Cerita Dibalik Sumpah Pemuda
Sejak duduk di SD,
kita udah tahu apa itu Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28
September. Jika pada 1908 timbul kesadaran untuk bangkit, pada 1928 muncul
kesadaran untuk bersatu, bertanah air satu, berbangsa satu,
dan berbahasa satu. Momen Sumpah Pemuda ini adalah momen kita untuk tidak lagi
terpecah-pecah oleh rasa kedaerahan. Nah, fakta-fakta yang
sering terlewat saat dicetuskannya Sumpah Pemuda!
1.
Usia Pencetus Sumpah Pemuda Masih Muda
Rata-rata baru masuk 20-an, banyak pula yang di
bawah 18 tahun dan
penuh semangat.
Mereka berasal dari berbagai latar belakang berbeda. Daerah asal mereka
berbeda; suku mereka berbeda; pun agama mereka. Lantaran mengenyam pendidikan
Belanda, mereka kebanyakan fasih berbahasa Belanda, selain bahasa daerah
masong-masing. Hanya segelintir yang lancar bahasa Melayu, bahasa pergaulan
masa itu. Pada 1920-an, para pemuda ini terkotak-kotak menjadi anggota berbagai
perkumpulan yang bersifat kedaerahan.
Misalnya, Jong Java,
Jong Sumatra, Jong Bataks, Perkumpulan Kaoem Betawi, Sekar Roekoen Soenda, Jong
Celebes, dan Jong Ambon. Dipengaruhi kepedihan kehidupan yang sama sebagai
warga jajahan, timbul kesadaran pergerakan mereka harus bersifat “nasional”.
Mereka mulai bicara soal “persatuan” dan “kemerdekaan”. Sebagai pencetus,
mahasiswa Indonesia di Belanda, yang antara lain Muhammad Hatta, menelurkan
Manifesto Politik pada 1925. Isinya, untuk pertama kali para pemuda bicara
tegas tentang kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan di antara sesama warga
jajahan, maka orientasi kedaerahan mulai ditinggalkan.
2.
Keisengan Para Pencetus Sumpah Pemuda
Jahil? Iya. Nah,
nggak nyangka kan kalau para pemuda pencetus Kongres Pemuda II punya sifat
jahil. Ceritanya begini. Para pencetus Sumpah Pemuda, yang umumnya mahasiswa,
banyak tinggal di rumah kos-kosan di Jalan Kramat 106 yang kini disebut Museum
Sumpah Pemuda. Saban
malam, para mahasiswa berdiskusi tentang berbagai hal. Kalau sudah larut malam
pukul 1, saat sudah capek diskusi, para mahasiswa mengumpulkan uang buat cari
kopi dan sate atau cari soto ke Pasar Senen. Acara diskusi pun
berubah dari yang berat-berat ke yang ringan, “lebih mendekati soal-soal yang
biasanya dekat ke hati pemuda,” kata Abu Hanifah, seorang pelaku Sumpah Pemuda
pada 1977 di majalah Prisma. Yah, tak jauh soal wanita yang ditaksir seperti
obrolan pemuda sekarang.
Kalau kebetulan ada
ujian, diskusi dan perdebatan berhenti. Semua masuk kamar, belajar. Biasanya,
kira-kira pukul 12 malam, setelah lelah belajar, mulai kembali terdengar
bunyi-bunyian. Amir Sjarifudin melepaskan capek dengan menggesek biolanya,
memainkan gubahan Schubert atau sonata yang sentimentil. Abu Hanifah mengambil
biola, memainkan lagu yang sama. Suara biola bersahut-sahutan. Kemudian terdengarlah
Muhammad Yamin beteriak, meminta Amir dan Abu diam. Yamin sedang dikejar
deadline mengerjakan terjemahan Rabindranath Tagore untuk Balai Pustaka. Dasar
jahil, bukannya diam, Amir malah makin asyik menggesek biola, sehingga Yamin
teriak-teriak. Amir dan Abu ketawa terbahak-bahak.
3.
Mengakali Polisi Belanda
Sabtu, 27 Oktober 1928. Jarum jam
menunjukkan pukul 19.45 ketika Soegondo Djojopoespito membuka Kongres Pemuda
II. Soegondo pemimpin rapat yang tangkas dan banyak akal. Perlu diketahui, yang
ikut rapat bukan cuma para pemuda, tapi juga diawasi langsung polisi Belanda.
Pada satu kesempatan, polisi Belanda protes karena peserta rapat menggunakan
kata “merdeka”, hal yang dilarang ketika itu. Soegondo kemudian
berkata, “Jangan gunakan kata ‘kemerdekaan’, sebab rapat malam ini bukan rapat
politik dan harap tahu sama saja.” Hal itu disambut tepuk tangan riuh dan tawa
hadirin.
Memang ada-ada saja
trik kaum pergerakan kala itu mengakali polisi Belanda. S.K. Trimurti, salah
satu tokoh pergerakan masa itu menulis sebuah cerita unik di buku Bunga Rampai
Soempah Pemoeda (Balai Pusatka, 1978). Tulisnya, ada trik
khusus agar rapat organisasi pemuda yang dianggap radikal oleh Belanda tidak
dibubarkan paksa polisi. Suatu ketika, para pemuda hampir ditangkap polisi
karena menggelar rapat, tapi akhirnya lolos. Kok bisa? Jadi, ketika polisi
hendak menggrebek, para peserta rapat berganti sikap. Rapat yang serius
berganti jadi acara tari-menari dansa. Musiknya, cukup pakai mulut saja
menirukan suara gamelan.
4.
Lagu “Indonesia Raya” Tanpa Syair
Semua orang
pasti tahu saat Sumpah Pemuda untuk kali pertama diperdengarkan lagu yang
kemudian jadi lagu kebangsaan kita: “Indonesia Raya”. Tapi pernahkah kita
bertanya, kenapa saat itu tidak dinyanyikan lagu “Indonesia Raya”
lengkap dengan syairnya? Baiklah, jawabnya masih ada
hubungan dengan larangan polisi Belanda untuk menyebut kata “merdeka” dalam
rapat. Maka yang terjadi, Minggu, 28 Oktober 1928, jelang penutupan
rapat, seorang pemuda langsing bernama W.R. Soepratman menenteng biola
mendekati pemimpin rapat Soegondo menyerahkan secarik kertas berisi syair lagu
yang digubahnya.
Menangkap judul
“Indonesia Raya” dan begitu banyak kata “merdeka” dan “Indonesia” di situ,
Soegondo langsung melirik polisi Belanda yang tekun mengawasi kongres. Soegondo
khawatir rapat bisa dibubarkan paksa bila lagu itu diperdenarkan lengkap dengan
syairnya. Ia membolehkan Soepratman memainkan lagunya tapi tanpa syair. Musik
itu berakhir dengan tepuk tangan panjang.
5.
W.R. Soepratman, Hidupnya Tanpa Cinta
Musisi dan cinta seharusnya berkait erat. Tapi entah
mengapa, W.R. Soepratman meninggalkan misteri seputar kehidupan cintanya.
Soperatman dikenal
sebagai wartawan yang suka bermain musik dan kongko-kongko
dengan para pemuda di markas Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia di Kramat
Raya 106. Ia mengenal musik sejak usianya 11
tahun. Pada 1938, ia pernah dibui Belanda. Usai dibebaskan, Soepratman
sakit-sakitan.
Dalam kondisi kian
hari kian parah, ia ditemani Kasan Sengari, iparnya, dan Imam Supardi, Pemimpin
Redaksi Penyebar
Semangat. Kepada Imam, Soepratman curhat bahwa hidupnya tidak bahagia karena
percintaan. Soepratman memang tidak menikah. Tapi Imam tidak menanyakan lebih
lanjut, khawatir karibnya makin sedih.
Dalam catatan
Kuisbini, karib sesame komponis, Soepratman kerap datang ke warung Asih di
Kapasari atau warung Djurasim di Bubutan, Surabaya, untuk menghibur diri
membunuh sepi. Namun di warung itu pun ia Cuma melamun ditemani kue dan
secangkir kopi. “W.R. Soepratman menutup rahasia hidupnya dalam Taman Asmara,”
tulis Kusbini suatu kali. “Taman Asmara” adalah istilah Kusbini untuk patah
hati sahabatnya. Sayang hingga akhir hayatnya, Soepratman meninggal tengah
malam 17 Agustus 1938, persoalan cinta itu tetap jadi teka-teki hingga
sekarang.
6.
Naskah Sumpah Pemuda Ditulis Satu Orang
Bagaimana ceritanya para pemuda bisa
bersumpah di hari bersejarah itu? Begini kejadiannya. Rumusan Sumpah Pemuda itu
ditulis Muhammad Yamin sendirian di sebuah kertas. Ketika
Mr. Sunario, sebagai utusan kepanduan tengah berpidato di sesi terakhur
kongres. Sebagai sekretaris, Yamin yang duduk di sebelah kiri ketua menyodorkan
secarik kertas pada Soegondo sembari berbisik, “Saya punya rumusan resolusi
yang elegan.” Soegondo lalu membaca usulan resolusi itu, memandang Yamin. Yamin
tersenyum. Spontan Soegondo membubuhkan paraf “setuju.”
Soegondo lalu
meneruskan kertas ke Amir Sjarifudin. Dengan muka bertanya-tanya, Amir menatap
Soegondo. Soegondo membalas dengan anggukan. Amir pun memberi paraf “setuju”.
Begitu seterusnya sampai seluruh utusan organisasi pemuda menyatakan setuju.
Sumpah
itu berbunyi:
Pertama
: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe,
tanah Indonesia.
Kedoea
: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe,
bangsa Indonesia.
Ketiga
: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa
Indonesia.
Sumpah itu awalnya dibacakan oleh
Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang lebar oleh Yamin. Setelah disahkan,
ikrar pemuda itu jadi tonggak bersatunya bangsa Indonesia.